Potret Perjuangan Anak Pedalaman di Indonesia Demi Dapat Bersekolah

Mereka harus menyebrangi jembatan yang sudah sangat rusak demi sampai kesekolah
Mereka harus menyebrangi jembatan yang sudah sangat rusak demi sampai kesekolah

Bagi kita yang hidup di kota modern atau metropolitan mungkin akan mudahnya mendapatkan fasilitas lengkap, walaupun mungkin akan terkena macet dan terkadang jalan berlubang. Namun, setidaknya ada jalan yang dapat dilalui dengan aman, sementara kita bersekolah atau berkuliah dengan nyaman, lulus serta mencari kerja yang terkadang membuat kita lelah. Akan tetapi, mungkin anda tak mengetahui perjuangan anak-anak indonesia di pedalaman sana harus berjuang keras agar dapat bersekolah. Ibu dan bayi

Mungkin dengan melihat potret perjuangan anak pedalaman agar dapat bersekolah ini, anda mungkin akan lebih bersyukur atas segala kemudahan yang telah diterima. Kita sebagai masyarakat indonesia juga dapat memikirkan solusi bersama atas tak meratanya pendidikan di Indonesia. Ya, walaupun sebagian mungkin sudah mendapatkan bantuan dari pemerintahan, namun tidak ada salahnya kita melihat kembali potret-potret perjuangan adik-adik kita sehingga kitapun dapat selalu bersyukur atas segala yang ada pada hidup ini.

  • Anak-anak di Desa Suro dan Plempungan harus melewati saluran air tua yang dibangun pada zaman belanda yang dibawahnya ada jurang menganga, agar dapat sampai ke sekolah tepat waktu. Sebab apabila menempuh jalur aman harus memutar sejauh 7km.
  • Anak-anak Desa Sanghiang Tanjung, Banten harus melewati jembatan yang miring akibat diterjang banjir dan apabila kepleset dikit saja dapat langsung nyebur ke sungai. Potret perjuangan anak sekolah Desa sanghian ini juga viral di media sosial, sehingga membuat sebuah perusahaan baja tergerak untuk membangun jembatan baru bagi mereka.
  • Perjuangan anak-anak di Desa Praibakul, Sumba timur yang setiap harinya harus melewati bukit dan sungai demi dapat bersekolah. Sepatu gunung atau minimal sandal merupakan barang yang langka bagi adik-adik kita yang ada di Desa Praibakul, jadi njangan membayangkan pada saat mereka melintasi bukit mereka menggunakan sepatu atau setidaknya sandal.
  • Anak Desa Sumua Bana, Kota padang ini sudah rusak sejak tahun 2008. Namun, harus dilintasi karena apabila melewati jalan aman harus memutar jarak yang cukup jauh. Sehingga anak-anak di Desa Sumua bana harus mempertaruhkan nyawa setiap harinya agar dapat sampai ke sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *